Wednesday, July 23, 2014

Polemik pasca pengumuman Quick Count Pilpres 2014


         Sadar nyatanya rakyat indonesia disibukkan akhir2 ini dengan berita tentang Pilpres 2014. dari masing-masing kubu saling menunjukkan ego keunggulan masing2 calon presiden yang diusungnya. ya saya kira itu sebuah hal yang fair apabila kita mampu menyikapi dengan rasional. rasional yang saya maksud disini adalah tidak menyebarkan isu2 negatif seputar sosok2 yang diunggulkan dan mampu mencerna setiap info yang asimetris. 

       Berikut adalah berita yang saya anggap mengusik dalam pemberitaan seputras pilpres 2014 ini. dan saya anggap menarik untuk dituangkan dalam tulisan.
         Jujur, saya hanya merangkum beberapa pernyataan yang mengindikasikan kebenaran dalam ilmu statistik yang saya peroleh dari grup KAGAMA.
mari kita simak berikut ini :
         Berawal dari hasil liputan surat kabar berita nasional dibawah ini.
http://nasional.kompas.com/read/2014/07/10/21082731/Jika.KPU.Menangkan.Prabowo.Lembaga.Survei.Tuding.KPU.yang.Salah.
langsung mendapat berbagai tanggapan serius oleh beberapa praktisi yang ada di negeri ini.
salah satunya adalah mas afmed safrudin (https://www.facebook.com/ahmed.safrudin/about) dalam akun FB nya tersebut beliau berprofesi sebagai konsultan riset. jadi saya kira beliau cukup kompeten untuk membuka thread dalam grup dan memmancing khalayak ramai dalam grup untuk memberikan tanggapan seputar thread tsb.
berikut petikannya, 

mas Ahmed safrudin memosting "Pernyataan gegabah........
Sangat berbahaya jika klaim kebenaran mutlak dimiliki oleh lembaga survey. Mestinya semua pihak menahan diri untuk tidak men-declare bahwa apa yang dilakukan lembaga survey tertentu pasti benar. Jika perhitungan manual KPU berbeda dengan quick count, berarti KPU salah...."

#kita tidak mempersalahkan hasil QC lembaga survey itu, tapi pernyataan QC lebih akurat daripada manual, ini secara epistemologis ditolak (Safrudin, 2014)

# ilmuwan tidak berhak mengklaim kebenaran mutlak ada di pihaknya. Jika itu dilakukan ia menyalahi hakikat ilmu, yakni membebaskan dari hegemoni kebenaran absolut. (Safrudin, 2014)

#QC kemarin itu bukan justified belief. Itu ada metodenya. Dan sejak 1999 ada akurasinya. Kalau yang versi PKS itu metodenya saya pertanyakan. (Karim, 2014)
#Kalau saya cenderung pakai nalar kok. Penjelasan smrc kemarin itu transparant, logic, dan terbuka untuk dipertanyakan. Tetapi kalau memang dasarnya mau menang sendiri berdasar wangsit, bukti empirical apapun tak akan mampu mengubah kepercayaan.
Be smart. Life's better. (karim, 2014)

#Saya juga tidak percaya dengan QC yang dilakukan PKS. Tetapi tingkatan mencapai taraf kebenaran itu mesti proporsional. QC mesti diverifikasi dengan RC. Jika pada tahapan itu dilakukan, maka komentar BM (Burhanudin Muhtadi-red) menjadi kontradiktif.....(safrudin, 2014)

#sekali lagi sy tidak mempermasalahkan hasil QC. Yang menjadi persoalan adalah jika hasil RC bertentangan dg QC, maka KPU yang salah. Ini seakan memosisikan sebagai pihak paling benar. Padahal survey baru sebatas cerminan fakta, bukan fakta yng sesungguhnya (Safrudin, 2014)

#saya pengagum metode ilmiah. Bahkan data yg diperoleh mesti melalui uji validitas dan reliabilitas. Baru kemudian dilakukan data sampling. Masalahnya mas Bhe, klaim kebenaran melalui prosedur ilmiah itu yang mesti ditolak. Pada prinsipnya, kebenaran yang diperoleh melalui prosedur ilmiah tetap bersifat tentatif, tidak mutlak. Akreditasi untuk melakukan QC bukan klaim kebenaran....
Ada mekanisme tersendiri.(Safrudin, 2014)

#Saya empiricist, memperhatikan syptomps, dan evidennce, yang VERY LIKEY mendekati nalar. Dan hal-hal yang immaterial saya dekati dengan phenomenology pilihan saya. Soal QC itu akhirnya kan berputar pada kredibilitas. So far, saya masih believed ini smrc QC dengan margin error 1%. Tetapi yang saya lihat yang marak kan "orang yang tak mau kalah" , atau mau memberi kesempatan kepada science untuk bicara. Apakah ini memang ciri masyarakat sekarang ini? Lack of trust? (Karim, 2014)

# uji validitas dan realibilitas sudah pasti dilakukan lembaga survei kredibel. Output dari metode Varimax dalam Multistage Random Sampling adalah dilakukannya Uji Normalitas dan Uji Lienearitas.
SMRC contohnya, melakukan survei menggunakan 4.000 sampel TPS. Sebenarnya menurut Tabel Morgan cukup 200 saja. Tetapi dalam rangka uji Validitas dan realibitas itu, SMRC memakai angka 4.000.
Poin saya, kita sebagai bagian dari masyarakat Ilmiah sebaiknyalah percaya pada tools ilmiah dalam kaidah2 statistik. Dan lembaga survei kredibel telah memenuhi kaidah2 tsb.(Kansil, 2014)

# porsi ilmuwan untuk berkontribusi dalam pemilu sudah cukup memadai. Memang kasus pemilu capres saat ini, dimana tidak ada perolehan suara yg dominan mengharuskan ada pendekatan psikologis massa untuk meredam gejolak horizontal.  saya paling suka dengan dunia riset karena pekerjaan saya sehari-hari. Titik masalah yang saya pertanyakan adalah klaim kebenaran di tengah situasi yg tak menentu. Mestinya seorang ilmuwan tidak hanya melihat aspek kebenaran metodologis semata, tetapi psychological/emotional spectrum.... (Safrudin, 2014)

#FYI: Foke pada Pilkada DKI, hanya selisih 5-6% menurut QC (sama sebangun dgn kondisi saat ini). Jam 15.00, Foke mengucapkan selamat kepada Jokowi sambil berkata, mari kita tunggu hasil RC (Real Count-red). (Kansil, 2014).
#Jika metode ilmiah diterapkan dalam spektrum politik, maka dibutuhkan pendekatan baru, scientific psychological approach. Terutama dalam urusan declare kebenaran....... (Safrudin, 2014)

#Ah, ga perlu. Tgl 9 April kemarin, SBY mengucapkan selamat kepada Mega sebagai pemenang Pemilu berdasarkan QC kok... (kansil, 2014)

#dunia akademik sangat menghargai metode ilmiah yang exactly. Ini persoalan dua dunia yang cenderung berbeda. Metode ilmiah menghasilkan kepastian dan presisi yg tinggi, namun politik adalah dunia kemungkinan (Safrudin, 2014)

#QC (yang sesuai metodologi) bersifat sebagai gambaran dan alat kontrol bagi RC. Masing2 punya kemungkinan kesalahan. QC umumnya pada sampling, dan RC pada lama dan proses berjenjangnya yang rawan disusupi. Maka QC yang valid (dengan margin of error) adalah fungsi pengawasan bagi RC. Jika salah satu terlalu jauh berbeda angkanya maka patut dipertanyakan, salah satu pasti ada kebohongan / kesalahan. Berhubung ini angka (lepaskan dulu kemungkinan infiltrasi politik), mudah dicek yang mana yang ngibul jika terjadi (semoga tidak). (Adhi, 2014)

#Siap menang, siap kalah. Menang jangan jumawa, kalah kudu legawa. Yang menang belum tentu lebih baik dari yang kalah. Allah mempergilirkan kekuasaan kepada siapa saja yang dikehendaki. Termasuk kepada orang dan bangsa jahat sekalipun (Fir'aun, Nazi, Zionis Israel, dll). Supaya manusia mengambil pelajaran/hikmah. Dan barangkali supaya kehidupan menjadi lebih berwarna. Wallahu a'lam. (Dono, 2014)

#Pilpres dan Pileg 2004, 2009 lembaga survei ngoceh dulu, ga ada masalah tuh. Jadi masalah karna ada lembaga survei abal2 yg ngoceh.
Nih abal2nya: LSN mengatakan Prabowo Unggul 0,36%, padalah margin of Errornya 1%.
JSI mengatakan Prabowo Unggul 0,9%, padahal MoE nya 1%.
Secara kaidah statistik, keunggulan di bawah MoE tidak dapat deklarasi keunggulan. (kansil, 2014)

# Iya yang diperlukan adalah fakta dan data saling mendukung..maka jangan sampai barang bukti hilang atau direkayasa itu yg penting utk menunjukkan kevaliditasan yg sesungguhnya..maka dikawal yg benar dan jgn membuat opini2 yg menyesatkan publik...semua hrs cinta Indonesia yg damai jgn ngotot-ngototan...hrs sabar dan percaya lembaga KPU. (Efendi, 2014)

# hebat banget yak, hanya BM komentar begitu sampai dituduh p*l*c*r, fasis dll. Memange udah pada jago2 statistik kali dimari. Jauuh banget membawa rencana Gusti Allah segala. Ngapain pake esmosi segitu. Pernyataan BM agak arogan, iya. Tp bagaimanapun harus diakui dia juga punya reputasi panjang. Kalau yang ngomong punya reputasi abal2 dengan total football 8M ya memang pantes ditanggapin emosi lempar sandal. Kalau memang KPU beda dengan QC nya (dan memang rawan beda krn prosesnya yang panjang dan berjenjang, dan sudah keliatan ada bbrp berita C1 yang aneh2) tinggal buka datanya,diadu. BM juga mempertaruhkan reputasinya juga. Knp harus ditanggapi emosi? Kita jg ndak mbayarin BM dan kita disini juga pernah belajar statistik dan metodologi riset pas kuliah. Sebuah fungsi kontrol itu bagus. Kita juga bisa menyimak dan tahu benar atau salah drpd ngitung sendiri. Atau memang KPU itu sudah pasti benar ? (dan menolak KPU adalah tindakan subversif mengutip tulisan seorang teman yang mungkin banyak beredar). (Adhi, 2014)

#Kalau nanti hasil KPU tidak sesuai kan bisa digugat di MK.. Saya pendukung JKW tapi lihat juga yang rasional. Makanya setelah tgl 9 kemarin silahkan masing masing capres mengawal proses penghitungan suara dari tingkat pps, kelurahan, kecamatan, kabupaten, provinsi dan nasional. Di UU KPU lah yg berhak mengeluarkan hasil resmi siapa pemenang pilpres bukan quick count, kalau sebagai kontrol iya tapi kalau langsung nyebut hasil KPU klo menangkan capres no 1 salah ya ini gak bener juga. Pernyataan gegabah. (Muhammad, 2014)


Sekian dan terima kasih,
The Choice is yours.


Salam hangat
TheJack2




sumber : https://www.facebook.com/groups/kagamavirtual/permalink/796793103686040/











Thursday, July 10, 2014

Pelajaran berharga dalam Pilpres 2014

"Suro diro joyo ningrat, lebur dening pangastuti"

Suro       = Keberanian

Diro       = Kekuatan

Joyo       = Kejayaan

Ningrat   = Bergelimang dengan kenikmatan duniawi

Lebur       = Hancur, musnah

Dening      = dengan

Pangastuti = Kebijaksanan, kasih sayang, kebaikan

                    Kesemua penggal kata tersebut apabila digabungkan akan memiliki arti mendekati seperti dibawah ini

"Semua Keberanian, Kekuatan, Kejayaan, dan Kemewahan yang ada di dalam diri manusia akan dikalahkan oleh Kebijaksanaan, Kasih Sayang, dan Kebaikan yang ada di sisi lain dari manusia itu sendiri"

                   Suro diro joyo ningrat, lebur dening pangastuti merupakan pepatah jawa yang mashur dikalangan orang jawa, dan ternyata pepatah ini mampu menyimpulkan perolehan suara pada pilpres 2014 kali ini. Meskipun data yang masuk adalah masih merupakan data quick count yang dilansir oleh beberapa lembaga survei yang ada di indonesia. Sungguh fenomena pengungkapan hasil quick count kemarin begitu tragis, tragis karena ada yang sampai menyatakan berani diperkosa apabila pasangan calon yang didukungnya tidak menjadi presiden, ada pula yang berani dipotong jarinya, ada pula yang berani telanjang bulat dan lebih tragis lagi ada yang mau bunuh diri apabila calon presidennya tidak terpilih dalam pilpres 2014.
                    Ini sungguh-sungguh terjadi di negeri rayuan pulau kelapa yang kita cintai ini. negeri yang dikabarkan tahun 2030 (?) menjadi negeri pemimpin dunia dengan kemasyhuran penduduknya. hanya terpecah dengan adanya pesta demokrasi.
                    Fenomena keberanian menyatakan keputusan mendukung salah satu calon merupakan hal yang wajar dan umum bagi setiap penduduk. pasalnya, segalanya juga pasti butuh sosok yang berkarakter sesuai dengan hati nurani. ya hal inilah yang seharusnya menjadi patokan dalam memilih, namun bukan sebaliknya, hanya keputusan emosional yang diusung oleh beberapa warga yang menjadi trend setter sehingga dengan buta investigasi, para follower mengikuti pilihan sang trend setter tersebut.
                   Tragis sudah negeri ini, energi terbuang sia-sia karena menjelek2an pasangan calon presiden yang bukan pilihannya, bukankah akan lebih elegan apabila masing-masing tim sukses mampu meredam aroma2 jelek yang akan dihembuskan ke pihak lawan, namun menggantinya dengan adu gagasan dan argumen kebaikan untuk membangun negeri yang kita cintai ini.
                  Sesungguhnya, pesta demokrasi ini hanyalah sebagai pintu gerbang untuk mengisi kemerdekaan yang telah kita raih, karena masih banyak agenda kegiatan yang harus tetap dijalankan demi mengurus negeri ini. jangan jadikan pesta demokrasi sebagai ujung tombak perpecahan bangsa, suku, agama, ras dan golongan. tetaplah bersikap "menang ora umuk, kalah ora ngamuk"

menang     = menang
ora             = tidak
umuk         = sombong, pongah
kalah         = kalah
ora             = tidak
ngamuk      = berbuat kerusakan, fasad

           Menang ora umuk, kalah ora ngamuk, jika menang tidak sombong, kalaupun kalah tidak berbuata kerusakan, apabila menang sudah sepatutnya bersyukur dan apabila kalah sudah sepatutnya bersabar.
Syukur dan sabar adalah senjata diri untuk mencegah dari perbuatan yang kurang terkontrol. kurang terkontrol karena hanya melibatkan nafsu belaka tanpa adanya landasan logis dalam menganalisa akibat yang akan ditimbulkan.

                   Dalam masyarakat kita ada hukum alam yang cukup terkenal yaitu hukum tabur tuai, dimana hukum ini adalah yang menjadi sebab akibat yang kita terima dalam hidup ini. kita bisa simak tebaran hukum tabur tuai ini dalam pilpres 2014. sebagai contoh ada pasangan yang menggulirkan kampanye negatif terhadap pasangan lain, padahal apabila kita telisik lebih dalam kampanye negatif tersebut belum tentu benar2 terjadi. dan hegemoni dari kampanye tersebut sudah menggelora. Ngenes, apa jadinya apabila tuduhan semacam itu benar2 tidak terbukti (?) apakah ada keinginan utnuk meminta maaf ?.
oh,.. tidak mungkin lah,.. yang ada adalah semakin mempertajam permusuhan dan berakibat perpecahan.

                   Saya salut dengan salah satu tim sukses capres yang dengan santainya menanggapi isu2 negatif yang berhembus di kubunya dengan pernyataan "jangan dibalas, tetap sebarkan kebaikan" hal ini adalah sebuah antithesis keburukan dibalas dengan keburukan.


ya,.. saya kira ada pelajaran baik dalam Pilpres 2014 ini, saya secara pribadi hanya menyimpulkan :


"SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI"

Monggo dipun ambil hikmahnya pasca hajatan pesta demokrasi pilpres 2014.

Kubu yang kalah sepatutnya berSABAR krn masih ada kesempatan di tahun 2024 (?)

Kubu yang menang sepatutnya berSYUKUR krn upaya mengisi kemenangan adalah amanah dari rakyat.



Menang ora umuk, kalah ora ngamuk

Salam kemenangan *-*v v for victory

Sesungguhnya fitnah itu lebih keji.



















nb : foto diambil dari akun FB teman tanpa seizin yang punya dab! :p